Semangkuk Semur

Uncategorized

Seperti musik, makanan juga bisa membawa diri ini kembali ke masa lalu. Menyusuri berbagai kenangan. Hingga akhirnya memilih untuk mengunjungi sebuah kenangan manis.

“Aku mau masak semur daging ya. Buat makan siang nanti” kata Danny, suamiku. “Persis yang mamaku dulu suka buat” tambahnya bersemangat. 

“Emang kamu tau takaran bumbu-bumbunya?” tanyaku sok cuek tapi dalam hati berharap semur tersebut bisa siap buat makan siang hari ini. 

“Ya gampanglah, nanti aku tanya Terry. Kayaknya dia sering masak itu deh”

Masa pandemi membuat aku dan Danny rajin memasak. Selain berhemat (tentunya itu yang utama), aku juga berniat untuk menantang diri sendiri dengan bermacam-macam resep. Dari makanan berat, ringan, hingga kopi. Yah lumayanlah, memuaskan rasa penasaran.

Pagi harinya kami ke supermarket dekat rumah, berbelanja seperlunya. Siang harinya Danny sibuk video call dengan Terry, adik perempuannya. Memastikan takaran bumbu-bumbu dan kecap sesuai. Danny berkali-kali mencicipi, merasakan apakah sudah seperti buatan Mamanya dulu. Hingga beberapa saat kemudian; “Nah ini dia! Pas banget! Persis (rasanya) seperti yang Mama sering buat dulu”. Aku tersenyum lega sambil sibuk menyiapkan peralatan makan. Rice cookerpun memberi tanda kalau nasi sudah matang. Hore!  

Siang itu, kami makan semur.

Aku tau Danny sebenarnya gak kepingin-kepingin banget makan semur. Aku rasa dia kangen dengan almarhumah mamanya. Setiap suapan daging, kentang, dan tomat yang berpadu sempurna dengan kecap manis membuat rasa rindunya sedikit demi sedikit terobati. Mungkin itu salah satu caranya untuk mengingat si Mama. Mengenang kehangatan pelukan, obrolan, kehadiran dan hal-hal menyenangkan lainnya dari sosok Mama.

Ingatan terhadap orang-orang yang kita cintai akan selalu ada. Walau raga terpisah tapi ikatan itu akan selamanya hidup. Lekat dengan diri kita. Hari itu Danny memilih tidak hanya mengenang tapi juga merayakan sosok Mama. Kami merayakannya dengan makan semur.

Journal #10: Free Walking Tour

90 days, 90 stories, Travel

Free Walking tour (FWT) adalah hal wajib sekaligus favorit yang aku lakukan selama liburan di Eropa. Sebelum mendatangi sebuah kota/ negara, aku pasti browsing dulu, apakah ada walking tour yang bisa diikuti. Menurutku FWT sangat menyenangkan, ekonomis, dan salah satu cara terbaik untuk mengenal sebagian (kecil) sebuah kota/ negara.

Ekonomis

Berkelana di benua Eropa selama +/- 3 bulan, pastinya kudu hemat dong ya! Sebenernya agak susah sih mau ngirit karena YOLO (you only live once) banget kan ya kita. Hahaha… Namun apa daya irit tetep kudu dilakukan asal substansi tetap terjaga. -_-‘

NAH! WT ini menurut ku adalah salah satu solusinya. Kita bisa tau banyak hal terutama sejarah suatu tempat dan juga kebiasaan penduduk lokal dengan.. GRATIS. Hmmm… gratis maksudnya lebih ke pay as you wish. “Terserah loe deh mau bayar berapa! Mau engga bayar ya gapapa juga!” Kira-kira gitu deh kasarnyah dan kita bayar di belakang (setelah tour kelar). Kalau kita suka sama cara penyampaian tour guide nya, misal; se-informatif apa sih dia, se-menghibur apa sih dia, se-oke apa programnya, ya kita bayar sesuai penilaian kita aja terhadap hal-hal tersebut.

Sehat dan Bugar

Kenapa? Karena mau gak mau kita dipaksa jalan hahaha. Kalori masuk dan keluar seimbang sih. Ini juga yang membuatku gak melar-melar banget pas balik ke Indonesia.

Unique Experience

Karena penilaian bener-bener subyektif, jadi si tour guide selain informatif, ya juga menghibur (banget). Mereka suka cerita jokes lokal, kebiasaan penduduk lokal, bertingkah kocak, traktir kopi, nunjukin spot instagram yang cakeup, bahkan pernah juga peringatin kita soal copet.

Pokoknya Walking Tour is a must deh kalo pas kita blank mau ngapain lagi di tengah itinerary kita yang membludak hahaha… cerita mengenai free walking tour akan ada postnya sendiri ya.. biar makin mendalam >-<

Oh iyaaaaa, ini yang penting banget, beberapa tahun belakangan nemuin kalau di Jakarta udah ada juga semacam free walking tour gini, salah satunya ini Jakarta Good Guide. Aku belum sempet ngikutin sih tapi kayaknya seru! Kapan-kapan mau coba! Ada yang tahu kalau di kota-kota selain Jakarta udah ada belum ya?! Boleh komen pls gaes 🙂

Foto saat mengikuti salah satu free tour.. persis turis ya..

Journal #9: The DIY Wedding

90 days, 90 stories, DIY thingy, Travel

DSC00565

Tibalah kita di H-1 sebelum event pernikahan akbar Brenda (my cousin) & Jermaine :). Di hari itu kami menghias tampak depan rumah dan ruang tamu. Jadi ceritanya besok mempelai pria akan dateng kan ya menjemput menuju gereja. Nah! kita kudu menyambut lanjut sarapan dan foto-foto sebentar. Karena aku dateng beberapa hari sebelum acara jadi ya lumayan ngikutin juga persiapan sepupuku untuk pernikahan ini. Yang paling seneng sih ikutan belanja printilan. Entah emang bener atau perasaanku aja, tapi barang-barang dan toko-toko DIY di Belanda sini lucu-lucu amat.

Menggemaskan bukan the printilans?!

IMG_1078

gemes

IMG_1060

frame ikea andalan

IMG_1058

Laff

IMG_1061

Suvenir

IMG_1066

Tata Ibadah untuk di Gereja

IMG_1065

Pesan untuk mempelai

IMG_1064

Thank you note untuk hadirin

and now, let’s partaaaayyy…

Journal #8: Ikea Visit

90 days, 90 stories, DIY thingy, Travel

IMG_1031

Salah satu yang pengen banget dilakukan pas di Eropa adalah ke Ikea. Hihihi… karena selalu amazed dengan katalog-katalog Ikea sejak jaman kuliah. Neat, clean and minimalist gitu kan ya.. tapi apa daya di Jakarta belum ada. Sempet sih berkunjung ke Ikea di Singapura tapi kan kayaknya kalo di Eropa lebih afdol ya ga seh.. padahal isinya mah rata-rata sama. Seingetku ke Ikea karena mau beli beberapa barang untuk dekorasi resepsi pernikahan sepupuku.

IMG_1033IMG_1034

IMG_1036

Sempet shock ada SAMBAL!

IMG_1037

IMG_1040

Cabang Ikea manapun, makanannya harus ini

Journal #7: One Fine Day at Katwijk

90 days, 90 stories, Travel

The day has come. My cousin’s civil wedding. Wui.. pengalaman pertama nih menghadiri catatan sipil di luar negri. Patut diabadikan #azeq. Gini-gini, tanda tanganku ada lho di salah satu dokumen nikah sepupuku itu karena aku diminta jadi salah satu saksi pernikahan mereka. Bangga! Hahaha…

Catatan sipil diadakan di kota Katwijk dihadiri keluarga inti dan beberapa sahabat dekat. Setelah itu kita merayakannya secara sederhana dengan makan panekuk.

IMG_0908

Salah satu interior dalam gedung. Lucu ya!

IMG_0912

Foto session

IMG_0918

Let’s celebrate!

IMG_0919IMG_0921

IMG_0927

Pancake ala Belanda

IMG_0928

The happy couple 🙂

Journal #5: Thing(s) I Take for Granted #flashbackfriday

90 days, 90 stories, Travel

The things we take for granted, someone is praying for – unknown

Perjalanan panjang ke negri orang memang membuka mata terhadap hal-hal yang selama ini kuanggap biasa aja. Hal-hal kecil yang ada dalam keseharian, saking muncul terus sampai dianggap yah gitu deh biasa saja. Bahkan tidak jarang dikeluhkan. Hadeuh. Contoh sederhana; cuaca dan musim.

Tinggal di negri Tropikana memang akrab dengan hawa panas membara. Gerah, lembab dan peliket adalah makanan sehari-hari. Lihat matahari crong dikit langsung malas keluar rumah, panas sedikit langsung nyalain AC. Kadang-kadang ku merasa emosi mudah tersulut kalo suhu naik sedikit beberapa derajat. Hahaha…

Tapi pas plesir ke luar negri, apalagi di musim gugur ya, ngeliat bule berbondong-bondong berjemur setiap ada matahari nongol, itu cukup membuatku tertegun sih. Mereka kayak happy banget kalau udara cerah, langsung piknik, duduk-duduk/ tidur-tiduran di taman, nongkrong di cafe yang bagian luarnya, pokoknya apapun deh asal terpapar sinar matahari. Aku gak akan pernah lupa, kebiasaan para sodara setiap kali kami mau pergi keesokan harinya, pasti cek ramalan cuaca. Kalau cuaca bagus alias cerah alias tak hujan, maka mereka seneng banget dan pasti bilang: Wah mooie weer nih Yan besok! Beruntung kamu! Yeay, jalan-jalan kita! 🙂

Ok, mungkin ada beberapa yang berpendapat kalau perbandingan itu gak apple to apple. Panas di Indonesia kan beda ama panas di Eropa choy! ya.. mungkin ada benarnya juga. But the thing is.. aku jadi sadar aja bahwa hal kecil yang kuanggap biasa saja ternyata sesuatu banget di negri orang. Disitu aku diingetin lagi untuk bersyukur dan menikmati small things setiap hari. Emang bener di Jakarta panasnya aujubile, tapi pasti gak akan selamanya panas. Sekarang setelah jadi istri dan lumayan sering cuci baju sendiri, paling senang rasanya lihat matahari terik karena cucian akan cepat kering. Hihihi… Dan kita cukup beruntung juga lho gak mengalami musim dingin yang terkadang bikin mereka ngungsi ke kota lain :p. Mudah untuk mengeluh kalau ada yang tidak sesuai dengan keinginan kita tapi coba deh bersyukur untuk setiap yang terjadi di musim kehidupan kita karena everything happens for a reason.

IMG_1921

Sunny Day @ Berlin

Journal #4: A piece of Alphen a/d Rijn

90 days, 90 stories, Travel

Beberapa bidikan saat jalan-jalan di kota Alphen. Aku juga sempet mengunjungi beberapa pertokoannya atau winkelcentrum; Aarhof, Herenhof, dan Riderrhof. Oia, dari halte dekat rumah tante dan om, aku pernah cobain naik bus langsung ke bandara, kota Leiden dan kota Den Haag. Aslik, kalau travelling di Eropa kayanya enak banget ya kemana-mana deket. Seharian di satu negara bisa pergi ke beberapa kota. Kusuka!

 IMG_0981IMG_0951IMG_0961IMG_0962IMG_0999

IMG_0991IMG_0953

Journal #3: Alphen aan den Rijn ~ Home Away from Home

90 days, 90 stories, Travel

Host: The Stevens 🙂

Ahhhh, baru nulis judulnya aja udah terharu biru. Hiks. #siapintisyusegulung

DSC00559

IMG_4714

Home Away from Home

 

Rumah om Rob dan tante Irma yang terletak di kota Alphen a/d Rijn adalah base camp akyu selama melakukan perjalanan/ liburan ini. Sebuah rumah 3 lantai yang terletak di jalan Mozartsingel adalah saksi bisu dari hari pertama sampai hari terakhir liburan, dari galau menentukan rute, sampai pusing kepala tiap kali beli tiket pesawat, kereta atau bus. Di rumah ini aku merasakan suasana rumah selama jauh dari rumahku di Indonesia.

IMG_0944

My typical breakfast

IMG_0946

Paling favorit; roti isi daging

Bangun pagi biasanya sarapan bareng tante di meja makan sambil ngobrolin apa aja. Berita teranyar dari tanah air, diskusi mengenai sesuatu, atau terkadang cerita-ceritaku mengenai kota-kota yang sudah dikunjungi. Kenapa cuma berdua? karena penghuni rumah yang lain sudah pergi kerja. Hahaha.. setelah itu aku biasanya mandi lalu berangkat jalan-jalan ke kota-kota lain di Belanda, nemenin tante belanja ke supermarket, atau jalan-jalan ke pertokoan di sekitar Alphen. Tapi kadang-kadang mager juga si hahaha.. jadi palingan browsing mengenai negara-negara Eropa lainnya yang mau aku kunjungi. Saking homeynya, suka malas keluar rumah :’)

IMG_1206

Sarapan sambil merencanakan perjalanan berikutnya!

Selama tinggal di Alphen, aku tidur di kamar salah satu adek sepupuku. Nah, kamar itu juga yang menjadi saksi masa-masa sleepless nights, mikirin hidup mau kemana usai liburan 3 bulan, waktu masih rajin nulis blog (LOL), dan akhirnya masa-masa mau nikmatin hidup aja pokoknya! Nikmatin yang sedang terjadi sekarang, karena kesempatan liburan ke Eropa selama ini belum tau kapan akan terulang lagi. Hahaha… dan yang terpenting kamar ini jadi tempat Rest beta di tengah padatnya rute liburan (woelah!).

IMG_0895

My comfy bed! Thank you Mel!

IMG_0914

Ini yang kamarnya kupinjem 🙂

Terima kasih ya om Rob dan Tante Irma, kehangatan dan kasih sayang dari kalian akan selalu Yana ingat. Sekali lagi, terima kasih. Peluk cium selalu.

DSC00573

My lovelies! Om Rob & Tante Irma 🙂